Bacalah

Bacalah
Sebelum melanjutkan

Jumat, 12 September 2008

Sekolah Bertaraf Internasional

Membicarakan sekolah bertaraf internasional tidak lepas dari kurikulum yang mengacu pada sebuah sekolah yang berada di luar negeri. Mengapa penting? Karena tanpa ada sekolah yang menjadi acuan, maka akan sulit sekali mendapatkan akreditasi. Dengan curriculum cloning, maka diharapkan, kualitas sekolah kloning akan setaraf dengan sekolah aslinya, sehingga, ketika ada siswa dari sekolah SBI yang pindah ke sekolah tersebut, maka dia dapat masuk ke kelas di mana anak tersebut berada pada tahun ajaran itu, tanpa harus mengalami degradasi alias penurunan kelas seperti yang menimpa siswa yang tidak berasal dari SBI.

Keberadaan SBI sebenarnya masih menjadi kontroversi di kalangan para pemerhati pendidikan, mengingat adanya kesenjangan yang sangat menonjol baik dari sisi tenaga pengajar, input siswa, kurikulum (biasanya harus sudah menerapkan KTSP), keterlibatan pemerintah dan stakeholders lainnya. Baca http://amaqify.wordpress.com/SBI.

Harapan yang terlalu tinggi sering menjadi sebab, mengapa SBI banyak mengalami kendala. Terutama harapan tentang proses belajar di dalamnya yang memiliki anggapan bahwa anak yang masuk ke sana secara otomatis memiliki minat belajar tinggi. Harus diingat bahwa, keinginan untuk masuk SBI tidak 100% berada pada anak. Oleh karena itu, anggapan bahwa siswa SBI pasti "lebih hebat" dari siswa sekolah lain adalah tidak tepat.

Hal yang perlu diperhatikan adalah kemampuan dan kemauan tenaga pengajar untuk mendedikasikan 24 jam waktunya untuk keberhasilan pendidikan siswa. Hal ini berkaitan dengan ketersediaan fasilitas di sekolah maupun di rumah guru. Guru harus memiliki, paling tidak, komputer yang terhubung dengan internet di rumahnya. Selain untuk mencari bahan pelajaran, koneksi internet ini berguna untuk menghubungkan guru dengan siswa di mana saja berada selama 24 jam. Siswa bisa saja diminta untuk meng-upload tugas yang diberikan dengan deadline jam 24.00, misalnya, dari rumahnya. Atau sebaliknya, ketika guru mendapat tugas dinas luar sekolah, tugas dan jawaban serta pertanyaan tentang tugas dari siswa dan jawaban dari guru, bisa diberikan lewat internet, sehingga tidak ada istilah jam kosong, karena guru pergi penataran, misalnya.

Sekolah harus memiliki website sehingga siswa bisa menjawab soal yang diberikan oleh guru, dan langsung mendapatkan pembahasan soalnya dari internet. Hal ini bisa dilakukan kapan saja dan di mana saja. Ketersediaan fasilitas ini akan merepotkan guru yang tidak terkoneksi selama 24 jam.
Dengan demikian, siswa mendapatkan pelayanan yang maksimal, kapan saja dan di mana saja. Efek sampingnya adalah, pengeluaran guru akan membengkak, bayar listrik, telfon, dsb. Sementara bisa dipastikan, guru SBI tidak mungkin mencari tambahan biaya dari tempat-tempat lain. Sanggupkah sekolah menanggulangi semua pengeluaran extra guru di rumahnya?

Dengan kondisi seperti sekarang ini, apakah kita sudah siap ber-SBI?