Malam Rabu, 2 Juli 2008, di salah stu TV swasta ditayangkan debat cagub dan cawagub propinsi NTB. Saya sendiri tidak sempat menonton acara tersebut dengan lengkap karena sesuatu hal. Saya hanya sempat menontonnya sedikit di penghujung acara.
Ketika saya kemudian keluar rumah untuk membeli obat nyamuk, saya juga ingin mendengar komentar orang-orang mengenai debat tersebut. Kebetulan sekali di perempatan jalan menuju ke kios tempat saya akan membeli obat nyamuk, saya bertemu dengan pendukung calon incumbent DRS. H. L. SRINATA. Saya membuka percakapan dengan bertanya,"Anda nonton debat tadi? Gimana?"
Temen saya ini menjawab,"Hebat! Mamiq Srinata memang
HEBAT. Beliau bisa menjawab setiap pertanyaan dengan singkat. Tidak bertele-tele. Tidak seperti calon lain yang setiap kali ditanya selalu menjawab dengan panjang lebar yang membingungkan kita yang menontot."
Begitulah jawab teman saya itu yang pendukung H. L. SRINATA.
Kemudian saya pergi membeli obat nyamuk. Di kios tempat saya membeli itu, kebetulan adalah pendukung Drs. Nanang Samudera yang mantan SEKDA NTB. Begitu melihat saya, dia langsung berkata,"Nonton debat tadi, Pak Guru? Pak Nanang memang
HEBAT. Pantas jadi pemimpin. Pertanyaan-pertanyaan dijawab dengan cerdas dan politis. Beliau memang berpengalaman menjadi birokrat, jadi memang sudah sangat pantas untuk kita pilih menjadi pemimpin."
Setelah cukup mengobrol, saya kemudian pulang. Saya tidak memikirkan lagi obrolan-obrolan tersebut karena saya sudah sangat mengantuk.
Keesokan harinya saya ke sekolah, karena saya adalah panitia PSB. Sebelum membuka pendaftaran, saya mendengar teman guru yang pendukung Tuan Guru Bajang berkata,"Debat tadi malam itu luar biasa ya?" Teman tadi melanjutkan,"Tuan Guru Bajang memang
HEBAT. Setiap kali ditanya, beliau menjawab dengan sangat terperinci. Setiap hal yang ditanyakan bisa dijawab semua dan diterangkan sampai detail. Betul-betul memuaskan. Beliau pantas untuk dijadikan pemimpin. Tidak seperti calon yang lain, jawabannya singkat-singkat karena tidak bisa ngomong."
Sambil menerima dan memeriksa berkas para pendaftar saya berfikir. Ternyata nilai kejadian yang sama bisa berbeda-beda menurut siapa yang menilai. Kesimpulan yang saya dapatkan adalah ternyata nilai terhadap figur itu sudah ada dalam hati kita masing-masing. Jadi bagaimanapun penampilan tokoh idola kita, dan bagaimanapun penhilaian orang terhadapnya, tidak akan mengubah penilaian kita sendiri.
Saya tidak menceritakan penilaian orang terhadap salah satu calon yang lain yaitu: DRS. ZAINI ARONY, M.Pd., karena saya belum menemukan pendukung beliau untuk dimintai komentarnya tentang debat tersebut ketika cerita ini saya posting 2 hari kemudian.
Pertanyaannya: Untuk apa debat itu dilakukan kalau tidak ada orang yang mengubah pilihannya terhadap calon pilihannya karena penampilannya yang buruj dalam debat itu?
Tulisan ini tidak bermaksud untuk mengulas bagaiman menilai calon pemimpin, tapi sekedar ingin mengungkapkan apa yang terjadi saat kampanye PILKADA di NTB. Bukan latah terbawa euphoria pesta demokrasi tersebut, namun ingin mengingatkan bahwa ternyata masyarakat kita masih belum bisa menilai dan memilih pemimpin dengan obyektif. VIVA NTB